April, 2007

MARAH BESAR

well…
Sekali lagi berada dalam keadaan yang sulit…
Gw tidak pernah merasa ada masalah dengan pihak yang merasa gw bermasalah dengan mereka. Hanya karena gw tidak memenuhi apa yang mereka inginkan, lalu gw diangap membangkang dan bermasalah. Gw tidak lagi bertanggung jawab sama mereka, karena secara "legal formal" mereka sudah tidak ada hak lagi untuk interfensi terhadap gw. Sehingga mereka pun sudah tidak ada hak untuk melakukan instruksi pada gw. Jalur yang mungkin mereka kasih ke gw adalah jalur koordinasi, dan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang sudah menyadari posisinya, kewajiban dan tanggung jawabnya, baru kemudian menuntut apa yang menjadi haknya. Gw bakal bisa berkoordinasi dengan mereka, dengan syarat, mereka tahu mereka siapa, mereka tahu gw siapa, mereka tahu hak dan kewajiban mereka, sekaligus mereka juga harus tahu hak dan kewajiban gw.
Dulu, pertama kali gw bekerja sama dengan mereka, gw bertanya, "Pak, jobdesc saya apa?" Lalu pihak yang akan bekerja sama dengan gw bilang, "Waduh, saya juga masih belum jelas jobdesc-nya apa, nanti aja kita rumusin sama-sama"
Mengingat status gw masih kontrak, dan memang gw belum ada kesibukan yang menyita waktu, dan memang gw juga ditempatkan disana, maka gw bekerja dengan semangat tinggi, mengerjakan apa yang menurut gw harus dilakukan sesuai dengan yang pernah gw dapat waktu gw kuliah dulu. Pihak yang mempekerjakan gw, tidak bisa mengeluh tentang apa yang gw kerjain, mereka tidak memberitahukan kepada gw apa yang mesti gw kerjain, kalau dengan begitu saja gw sudah bekerja dengan hasil yang cukup baik, harusnya mereka bersyukur dong.
Nah, setelah ketidakjelasan penempatan gw selama kurang lebih 3 bulan, akhirnya pihak yang mempunyai kewenangan, menempatkan gw di salah satu tempat yang menurut gw memang layak untuk menjadi home base gw. Terhitung 1 Maret 2007, gw pun punya home base. Tempat baru ini, memberikan kenyamanan bagi gw, baik dari segi fisik maupun psikis. Pokoknya gw sangat kerasan ada di tempat ini.
Karena itu juga, penempatan gw di home base, gw hampir jarang mengunjungi tempat yang dulu gw dipekerjakan. Gw lebih sering ada di home base, dibandingkan bekerja sama dengan mereka, meskipun sebenarnya gw itu bukan bekerja sama, tapi gw bekerja paksa. Sebagai pihak yang mempekerjakan gw awalnya, harusnya mereka memahami hak dan kewajiban gw. Jangan maunya hanya meminta kewajiban gw. Gw sudah melaksanakan kewajiban gw, masa gw tidak diberi hak gw. Dengan alasan apapun, gw berhak atas apa yang harusnya menjadi hak gw, karena jauh sebelum gw menuntut hak, gw sudah melaksanakan semua kewajiban gw, JAUUH sebelum gw menuntut hak gw. Meskipun gw sudah menuntut hak gw, toh, hak gw itu tidak pernah sampai pada gw. Karena pihak yang mempekerjakan gw itu mengaku beragama sama dengan gw, maka gw ingatkan bahwa ada sebuah hadits Rosul yang isinya kira-kira seperti ini:"Bayarlah upah buruhmu sebelum keringatnya mengering" Apa yang gw dapet dari mereka? Setelah kewajiban gw ditunaikan dengan baik, dan gw melaksanakan keputusan dari pihak yang berkewenangan, mereka mulai kebakaran jenggot dan mulai bingung dengan gw. Ketidakhadiran gw di dalam pekerjaan mereka, membuat mereka, saat ini mencari-cari alasan yang sangat tidak logis untuk mendepak gw. Padahal ya, gw tidak pernah merasa memiliki pekerjaan itu. Gw hanya menikmati saat-saat gw berinterkasi dengan manusia-manusia yang masih memiliki hati nurani di dalamnya (dengan mengesampingkan atasan mereka yang gw ga bisa ngerti pola pikirnya). Jika menurut mereka, gw tidak kompeten lagi, gw ga ada masalah dan memang gw tidak pernah ada masalah sama mereka. Sampai sekarang pun, gw masih berinteraksi dengan manusia-manusia yang masih punya hati itu meskipun interaksi gw dianggap tidak ada nilainya di mata mereka.
Mereka memperlakukan gw seolah-olah gw itu propeti yang bisa disimpan dimana saja,  harus ada di tempat yang mereka anggap sebagai tempat propeti, dan mereka bisa memperlakukan gw seenaknya…
GW MAKHLUK HIDUP, GW PUNYA HATI..
HATI GW BELUM MATI SEPERTI MEREKA…